MENU
WISHLISTLOGIN / DAFTAR

Jurnal

Fenomena FOMO di Kalangan Anak Muda: Saat Takut Ketinggalan Jadi Kebiasaan

7 Oktober 2026 · Marawa · 5 menit baca · 1 kali dibaca

Ringkasan

FOMO (Fear of Missing Out) adalah rasa takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Fenomena ini semakin mudah muncul di era media sosial, termasuk dalam hal fashion, gaya hidup, hingga kebiasaan berbelanja. Mengenali FOMO dapat membantu anak muda lebih bijak menentukan apa yang benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan dirinya.

Fenomena FOMO di Kalangan Anak Muda: Saat Takut Ketinggalan Jadi Kebiasaan
Bagikan

Apa Itu FOMO?

Pernah melihat teman atau influencer membeli tas yang sedang viral, lalu tiba-tiba merasa ingin punya juga?

Atau ketika melihat banyak orang mencoba tren yang sama di media sosial, muncul pikiran, “Kalau aku nggak ikut, nanti ketinggalan nggak ya?”

Perasaan seperti itu sering disebut FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out. Sederhananya, FOMO adalah rasa khawatir atau takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan, dibicarakan, atau dinikmati oleh orang lain.

FOMO sebenarnya bukan hal baru. Namun, media sosial membuat kita jauh lebih sering melihat aktivitas dan pilihan orang lain sehingga rasa ingin ikut serta bisa muncul dengan lebih mudah.

Mengapa FOMO Banyak Terjadi di Kalangan Anak Muda?

Anak muda hidup di tengah perkembangan tren yang sangat cepat. Apa yang populer hari ini bisa saja berubah hanya dalam beberapa minggu.

Media sosial juga membuat berbagai tren lebih mudah menyebar. Mulai dari fashion, tempat nongkrong, makanan, skincare, sampai produk yang sedang ramai digunakan.

Beberapa hal yang bisa membuat FOMO semakin mudah muncul antara lain:

• Sering melihat konten tren di media sosial.
• Melihat teman menggunakan atau membeli produk tertentu.
• Adanya dorongan untuk mengikuti lingkungan pertemanan.
• Takut dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman.
• Terpengaruh konten haul, unboxing, atau rekomendasi influencer.
• Adanya promo dengan batas waktu tertentu.

FOMO dan Tren Fashion

Fashion menjadi salah satu area yang sangat dekat dengan fenomena FOMO.

Ketika sebuah model tas, warna tertentu, atau gaya berpakaian mulai sering muncul di media sosial, produk tersebut bisa terasa semakin menarik. Apalagi ketika banyak orang mengunggah foto dengan produk yang sama.

Misalnya, kamu awalnya hanya melihat tas baru di media sosial. Setelah melihatnya beberapa kali, mulai muncul rasa penasaran. Kemudian melihat orang lain menggunakannya, membaca komentar positif, dan akhirnya merasa harus memilikinya juga.

Padahal, sebelum melihat tren tersebut, mungkin kamu belum merasa membutuhkan tas baru.

Ketika “Ingin” Terasa Seperti “Butuh”

Salah satu hal yang menarik dari FOMO adalah bagaimana keinginan bisa terasa seperti kebutuhan.

Padahal, keduanya berbeda.

Butuh biasanya berkaitan dengan fungsi dan kebutuhan nyata. Sementara ingin lebih berkaitan dengan ketertarikan atau keinginan untuk memiliki sesuatu.

Tidak ada yang salah dengan membeli sesuatu karena kita menyukainya. Yang penting, keputusan tersebut dibuat karena memang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita, bukan semata-mata karena takut ketinggalan tren.

FOMO dalam Kebiasaan Belanja

FOMO juga bisa memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan saat berbelanja.

Promo seperti “stok terbatas”, “tinggal beberapa lagi”, atau “promo berakhir malam ini” dapat membuat seseorang merasa harus segera mengambil keputusan.

Dalam situasi seperti ini, coba berhenti sebentar dan tanyakan pada diri sendiri:

• Apakah barang ini memang saya butuhkan?
• Apakah saya sudah memiliki barang dengan fungsi yang sama?
• Apakah saya memang menyukai produknya atau hanya karena sedang viral?
• Apakah barang ini akan tetap saya gunakan dalam beberapa bulan ke depan?
• Apakah pembelian ini sesuai dengan budget saya?

Memberi waktu untuk berpikir sebelum checkout bisa membantu membedakan antara keputusan yang memang diinginkan dan keputusan yang muncul karena dorongan sesaat.

FOMO Tidak Selalu Buruk

FOMO sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Namun, rasa ingin ikut serta tidak selalu berarti buruk.

Melihat tren baru bisa menjadi sumber inspirasi. Kita bisa menemukan gaya berpakaian baru, mengenal produk lokal, mencoba aktivitas baru, atau menemukan komunitas dengan minat yang sama.

Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar FOMO memengaruhi keputusan kita.

Mengikuti tren karena memang suka dan sesuai kebutuhan tentu berbeda dengan merasa terpaksa mengikuti sesuatu hanya karena takut dianggap ketinggalan.

Cara Lebih Bijak Menghadapi FOMO

Tidak perlu menghindari media sosial sepenuhnya untuk mengurangi FOMO. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dicoba.

1. Beri Jeda Sebelum Membeli

Ketika menemukan produk yang sedang viral, jangan langsung checkout.

Masukkan terlebih dahulu ke wishlist dan beri waktu untuk mempertimbangkan apakah kamu benar-benar menginginkannya.

2. Kenali Gaya dan Kebutuhan Sendiri

Tren bisa berubah, tetapi gaya personal tidak harus selalu mengikuti perubahan tersebut.

Pilih barang yang memang sesuai dengan aktivitas, kebutuhan, dan gaya sehari-hari.

Misalnya, jika kamu sering membawa banyak barang saat bekerja atau bepergian, tas dengan kapasitas yang sesuai mungkin akan lebih berguna daripada sekadar memilih model yang sedang viral.

3. Perhatikan Kualitas dan Fungsi

Sebelum membeli tas atau produk fashion, jangan hanya melihat tampilannya.

Perhatikan juga:

• Material yang digunakan.
• Ukuran dan kapasitas.
• Kenyamanan saat digunakan.
• Model dan warna yang mudah dipadukan.
• Kualitas pengerjaan.
• Kesesuaian dengan aktivitas sehari-hari.

Dengan begitu, produk yang dipilih tidak hanya menarik saat pertama kali dilihat, tetapi juga tetap berguna dalam jangka panjang.

4. Kurangi Membandingkan Diri

Media sosial biasanya hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Apa yang terlihat sebagai “semua orang punya” belum tentu benar-benar menggambarkan keadaan sebenarnya.

Jadi, tidak perlu merasa harus memiliki atau melakukan sesuatu hanya karena melihat banyak orang lain melakukannya.

5. Pilih Tren yang Memang Kamu Suka

Mengikuti tren sesekali tentu tidak masalah.

Kalau ada model tas, warna, atau gaya yang memang kamu suka, silakan jadikan inspirasi. Namun, tetap sesuaikan dengan karakter dan kebutuhanmu sendiri.

Tren akan terus berganti. Barang yang benar-benar cocok dengan gaya kita justru bisa digunakan lebih lama.

Dari FOMO Menjadi Pilihan yang Lebih Personal

Menariknya, fenomena FOMO juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri.

Daripada bertanya, “Apa yang sedang dipakai orang lain?”, kita bisa mulai bertanya:

“Apa yang sebenarnya aku suka?”

Misalnya, kamu menyukai tas dengan desain yang memiliki karakter etnik, detail handmade, atau warna yang mudah dipadukan dengan outfit sehari-hari. Pilihan seperti Koda atau Mimo bisa dipertimbangkan bukan karena sedang ramai digunakan orang lain, tetapi karena desain dan fungsinya memang sesuai dengan kebutuhanmu.

Dengan begitu, membeli sebuah produk menjadi keputusan yang lebih personal.

Menemukan Gaya Sendiri di Tengah Tren

Tren memang menyenangkan untuk diikuti. Namun, tidak semua tren harus menjadi bagian dari gaya hidup kita.

Ada kalanya kita menemukan produk karena melihatnya di media sosial, lalu memilihnya karena memang cocok dengan kebutuhan sendiri. Ada juga saat ketika kita justru menemukan sesuatu yang tidak sedang viral, tetapi akhirnya menjadi barang favorit karena paling sering digunakan.

Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren.

Yang lebih penting adalah menemukan barang yang membuat kita nyaman, sesuai kebutuhan, dan benar-benar terasa seperti diri sendiri.

Kesimpulan

FOMO merupakan fenomena yang semakin mudah muncul di tengah cepatnya perkembangan media sosial dan tren. Dalam dunia fashion dan belanja, FOMO dapat membuat seseorang tertarik membeli sesuatu karena takut ketinggalan, bukan karena benar-benar membutuhkan atau menyukainya.

Mengikuti tren bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, memberikan jeda sebelum membeli, mengenali kebutuhan, memperhatikan fungsi, dan memilih produk yang sesuai dengan gaya personal dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih sadar.

Karena pada akhirnya, punya gaya sendiri terasa lebih menyenangkan daripada sekadar mengikuti apa yang sedang ramai.

Pertanyaan umum

Apa yang dimaksud dengan FOMO?
FOMO (Fear of Missing Out) adalah rasa takut atau khawatir tertinggal dari tren, aktivitas, pengalaman, atau hal yang sedang dilakukan orang lain.
Mengapa anak muda mudah mengalami FOMO?
Media sosial membuat anak muda terus melihat tren dan aktivitas orang lain. Hal ini dapat menimbulkan dorongan untuk ikut agar tidak merasa tertinggal.
Apa contoh FOMO dalam fashion?
Salah satu contohnya adalah membeli tas, pakaian, atau aksesori karena sedang viral atau banyak digunakan orang lain, meskipun sebelumnya tidak merasa membutuhkannya.
Bagikan

Produk terkait

Aira
Rp 383.000Rp 499.000
Elvee
Rp 383.000Rp 499.000
Tabi
Rp 383.000Rp 49.900.000
Kahlla
Rp 383.000Rp 499.000
Deandra
Rp 383.000Rp 499.000
Falle
Rp 383.000Rp 499.000
Aurora
Rp 383.000Rp 499.000
Kaashav
Rp 383.000Rp 499.000
Keira
Rp 383.000Rp 499.000
Kuro
Rp 383.000Rp 499.000
Anthe
Rp 152.500Rp 255.000
Naia
Rp 152.500Rp 255.000
Hana
Rp 152.500Rp 255.000
Fika
Rp 152.500Rp 255.000
Rumi
Rp 152.500Rp 255.000
Mala
Rp 152.500Rp 255.000
Dhanya
Rp 152.500Rp 255.000
Zoya
Rp 152.500Rp 255.000

Artikel terkait

Fenomena Coffee Shop Culture: Mengapa Nongkrong Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Modern?

Jurnal

Fenomena Coffee Shop Culture: Mengapa Nongkrong Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Modern?

15 Oktober 2026

Coffee shop culture adalah fenomena ketika kedai kopi tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati minuman, tetapi juga ruang untuk bersosialisasi, bekerja, mencari inspirasi, dan menikmati waktu sendiri. Gaya hidup ini semakin populer karena menawarkan suasana nyaman yang cocok untuk berbagai aktivitas, mulai dari bertemu teman hingga menyelesaikan pekerjaan. Bagi banyak wanita, nongkrong di coffee shop juga menjadi kesempatan untuk mengekspresikan gaya personal melalui outfit, aksesori, dan tas favorit.

Baca selengkapnya
Bencana Alam dan Dampaknya bagi Kehidupan Sehari-hari

Jurnal

Bencana Alam dan Dampaknya bagi Kehidupan Sehari-hari

13 Oktober 2026

Bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan cuaca ekstrem dapat mengubah aktivitas sehari-hari dalam waktu singkat. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi mobilitas, pekerjaan, akses kebutuhan sehari-hari, hingga kondisi sosial masyarakat. Memahami risiko dan melakukan persiapan sederhana dapat membantu kita lebih siap menghadapi situasi darurat.

Baca selengkapnya
Dari Tangan Pengrajin Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Jurnal

Dari Tangan Pengrajin Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

11 Oktober 2026

Setiap produk handmade memiliki cerita yang dimulai dari tangan pengrajin, proses yang dikerjakan dengan teliti, hingga akhirnya menjadi bagian dari keseharian seseorang. Lebih dari sekadar benda yang digunakan, produk kerajinan tangan membawa nilai proses, keterampilan, dan sentuhan personal di dalamnya. Artikel ini mengajak pembaca melihat lebih dekat perjalanan sebuah produk handmade hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Baca selengkapnya

Komentar

Memuat komentar...

Tulis komentar

Verifikasi keamanan

FOMO di Kalangan Anak Muda: Kenali dan Hadapi | Marawa Handmade